Bersih-bersih Sungai Citarum Dari Tahun 2000 Hingga Hasilnya Kini

Hai GanSis!! Debat capres kedua sudah berlangsung hari Minggu kemarin. Namun aura debat masih ramai hingga kini. Dan yang menjadi topik terhangat untuk dibahas ialah soal lahan dan unicorn.

Tapi tahukah kamu? Debat capres kedua kemarin itu sebenarnya masih ada topik lain yang juga layak untuk diulas. Bahkan bisa lebih berbobot bahasannya.

Seperti diketahui, debat capres kedua kemarin itu membahas tema pangan, energi, infrastruktur dan lingkungan hidup.

“Kita sudah mulai untuk bersihkan kembali sungai-sungai. Salah satunya Citarum,” kata Jokowi di panggung debat di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (7/2/2019).

Mungkin kita banyak yang gak menyadari bahwa Sungai Citarum juga sempat dibahas dalam debat kemarin sebagai isu lingkungan. Hanya saja sebagian orang-orang kurang minat mengangkat topik ini.

Padahal isu lingkungan gak kalah penting kan ya. Percuma kalau kita sudah bekerja segala macam meningkatkan ekonomi, tapi lingkungan kita rusak. Kalau kata CEO Bukalapak; “OMONG KOSONG”.

Citarum, sungai yang pernah disematkan “gelar” sebagai sungai yang termasuk terkotor di dunia ini ternyata sudah sekitar satu tahun ini sedang coba “diobati”.

Perlahan wajah Sungai Citarum kini mulai berubah. Dari semula dikenal sebagai sungai kotor, bahkan dari hulunya sudah kotor. Kini kondisi sudah perlahan membaik.

Kawasan hulu sungai Citarum berada di Kabupaten Bandung bernama Situ Cisanti. Dikenal juga sebagai kawasan 0 kilometer Citarum. Di tempat ini ada 7 mata air yang menjadi awal Citarum mengalir jadi sungai terpanjang di Jawa Barat yang bermuara ke Laut Jawa.

Tentu saja, kini bertambah lagi objek wisata yang kudu dikunjungi di Bandung dan sekitarnya. Sebagai spot foto yang Instagramable.

Tak hanya di kawasan O Kilometer Citarum saja. Pemandangan dari atas Citarum juga layak menjadi spot foto yang digemari wisatawan.

Pembersihan besar-besaran hulu Sungai Citarum dikerjakan Maret 2018 dengan mengerahkan Kodam 3 Siliwangi. Pangdam 3 Siliwangi saat itu Mayjen TNI Doni Monardo terjun langsung

Dengan program Citarum Harum yang sudah setahun berjalan, diharapkan sungai ini pelan-pelan menuju ke arah lebih baik. Hulu sungainya lebih hijau karena 100 ribu pohon baru sudah ditanam.

Akses ke danau juga dirapikan. Enak untuk jogging atau hanya sekedar berkeliling sekitar danau. Wisatawan juga bisa kemping di sekitar Situ Cisanti. Kan enak tuh lihat air sungai yang sudah jernih.

Namun jangan senang dulu ya GanSis. Misi pembersihan Citarum belum selesai. Ini baru hulunya.

“KENAPA sumber sejernih ini di awal menjadi penuh sampah dan kotor tercemar di akhir aliran? KARENA ulah mahluk primata bernama Homo Sapiens alias manusia modern yang tidak peduli dan suka merusak lingkungan dengan buang sampah dan kotoran ke sungai, buang limbah pabrik juga ke sungai,” tulis Gubernur Jabar Ridwan Kamil di akun Instagram miliknya.

Sungai Citarum menyuplai air untuk kebutuhan penghidupan 28 juta orang dan merupakan sumber air minum untuk masyarakat di Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Bandung. Karena itu pelestarian Sungai Citarum ini penting. Termasuk juga sungai-sungai lainnya.

“2019 harus menjadi Tahun Kebangkitan martabat Sungai Citarum,” tulis Kang Emil.

Tentu membersihkan Sungai Citarum ini tidak mudah. Bahkan lebih sulit dari membersihkan kenangan bersama DIA *eaa

Gimana gak nih GanSis, Pada tahun 2013 Green Cross Switzerland dan Blacksmith Institute menyatakan Sungai Citarum sebagai salah satu tempat paling tercemar di dunia. Sungai ini ada di posisi tiga, hanya kalah dari Agbogbloshie, gunung sampah elektronik di Ghana, dan Chernobyl, kota yang mati akibat radiasi nuklir di Rusia.

Sungai sepanjang 269 kilometer ini diidentifikasi punya tiga masalah utama. Di hulu sungai terdapat lahan kritis yang menyebabkan erosi tanah; di sepanjang aliran muncul pengendapan yang menyebabkan banjir; ditambah pencemaran kotoran ternak, sampah rumah tangga, dan limbah pabrik. Berbagai senyawa beracun pun muncul di daerah aliran sungai (DAS) Citarum yang berdampak buruk pada 35 juta orang di 13 kabupaten/kota yang dilaluinya.

Kepala Loka Riset Pemacuan Stok Ikan di Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Didik Wahju Hendro Tjahjo, mengatakan sebanyak 14 jenis ikan asli Sungai Citarum diperkirakan telah punah dalam kurun 40 tahun hingga 2007 karena tak mampu beradaptasi dengan air yang kian hari kian tercemar limbah.

Gak cukup sampai disitu aja. Pada 2014, sebuah media Inggris menayangkan laporan dokumenter soal pencemaran Sungai Citarum yang berjudul ‘Unreported World, The World’s Dirtiest River’. Hal itu senada dengan data dari Dinas Lingkungan Hidup yang menyebutkan bahwa setiap harinya Sungai Citarum menerima 1.500 ton sampah baik dari sampah rumah tangga maupun limbah industri.

Maka itu memang usaha pembersihan Sungai Citarum gak gampang. Sebelum program ‘Citarum Harum’, sudah ada ‘Citarum Bergetar’ (2000-2003) dan ‘Citarum Bestari’ (2013). Namun nyatanya usaha tersebut belum cukup.

Tapi setidaknya itu merupakan langkah yang sudah bagus. Artinya usaha pembersihan Sungai Citarum tidak dadakan, sudah lama dilakukan. Tidak ada Citarum Harum kalau tidak ada Citarum Bestari. Tidak ada Citarum Bestari kalau tidak ada Citarum Bergetar.

Tapi setidaknya itu merupakan langkah yang sudah bagus. Artinya usaha pembersihan Sungai Citarum tidak dadakan, sudah lama dilakukan. Tidak ada Citarum Harum kalau tidak ada Citarum Bestari. Tidak ada Citarum Bestari kalau tidak ada Citarum Bergetar.

Setahun program Citarum Harum juga masih menemui sejumlah kendala. Termasuk limbah domestik yang masih menghantui. Oia, limbah domestik itu ya termasuk tinja atau e’ek.

“Hasil survei di wilayah Kota Bandung, ada sekitar 26.000 kepala keluarga belum memiliki septic tank, sehingga diperkirakan ada sekitar 35 ton tinja manusia yang masih dibuang ke sungai. Tetapi untuk wilayah Lembang dan Cimenyan, kami belum melakukan survei terbaru, diduga kondisinya masih sama,” kata Kolonel Asep Rahman Taufik selaku Komandan Sektor 22 Citarum Harum saat ditanya mengenai evaluasi satu tahun program Citarum Harum, Senin (21/1).

Belum lagi limbah industri, kotoran ternak dan sampah. Salah satu solusinya ialah pembangunan septic tank komunal. Dan tentunya itu semua belum cukup tanpa dukungan masyarakat yang sadar akan melestarikan lingkungan termasuk Sungai Citarum.

Dan jangan mengharapkan hasil yang instan. Nila setitik saja bisa merusak susu sebelanga. Apalagi berbagai sumber pencemaran yang mengotori air Sungai Citarum. Tentu memulihkannya kembali seperti sedia kala akan memakan waktu cukup lama.

Bayangkan saja, setidaknya mulai dari tahun 2000 hingga 2019. Dari Citarum Bergetar, Bastari hingga Citarum Harum. Dan prosesnya terus berlangsung.

Presiden Joko Widodo menargetkan dalam kurun waktu tujuh tahun, air dari daerah aliran sungai (DAS) Citarum yang memiliki luas 721.945,66 hektar dapat diminum oleh masyarakat. DAS ini menjadi penting karena menjadi sumber 80 persen kebutuhan air minum penduduk Jawa Barat.

Ya kita doain aja berhasil. Karena ini untuk kepentingan kita semua. Bukan hanya kepentingan politik. Saya yang jauh dari Sumatera saja ikut doain kok. Kenapa gak kalau kita banyakin naikin isu ini ketimbang debat-debat gak jelas di medsos. Lihat Citarum sekarang kan agak adem gitu lihat ijo-ijo. Capcus piknik gih!!

sumber:www.kaskus.co.id/thread/5c6ec2e6af7e9301ce6fa238/bersih-bersih-sungai-citarum-dari-tahun-2000-hingga-hasilnya-kini/?ref=threadlist-630&med=thread_list&style=compact

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *